Dear God, thank You for loving me. Amen!

Dear God, thank You for loving me. Amen!
Perempuan dari Timur Indonesia
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

Kami Terus Berteriak Agar Semua Tahu



Kami terus berteriak agar semua tahu
Mengapa?
Karena terlalu banyak yang diam. Diam dalam ketakutan.
Diam tidak akan menyelesaikan masalah.
Anak cucu kita harus tahu kebenarannya!

Mengapa saya masih terus membaca?
Karena membaca adalah melawan.
Melawan siapa?
Melawan kebodohan.
Anak cucu kita tidak boleh tunduk pada kebodohan.

Kami terus berteriak
Seperti orang gila
Disiang panas menyengat
Kami terus berteriak
Dengan semangat yang menyala
Kami tidak pernah lengah

Keadilan itu milik kami
Kami ingin kebebasan kami
Kami akan melawan
Anak cucu kita harus terus melawan

Berapa banyak orang yang mati sia-sia?
Tanah-tanah yang diambil dengan paksa, seberapa luasnya?
Kalian lupa?
Kami tidak lupa!
Anak cucu kita tidak boleh lupa!

Kami terus berteriak agar semua tahu
Tahu apa?
Tahu kebenaran sejarah
Tahu kesalahan-kesalahan yang disembunyikan oleh negara
Tahu kebobrokan pejabatnya
Dan tahu apa lagi?
Tahu bahwa anak cucu kita akan meneruskan perjuangan ini
Perjuangan apa?
Perjuangan meneriakkan keadilan untuk rakyat yang tertindas
Perjuangan memberitahu semua orang bahwa semangat belum pudar
Perjuangan bahwa kami belum mati.
Tidak.
Kami tak mati.
Kami terus berteriak agar semua tahu kami tak mati.
Anak cucu kita tak akan mati.

Kupang, 15 September 2016

Jumat, 19 Agustus 2016

NEGARAKU TELAH MATI, SAMA SEPERTI AKU

Aku masih terus menangis
Sungai airmata ini tak akan pernah habis
Tanahku belum merdeka
Aku, adik-adikku
Kami terus dijajah
Aku bisa apa?
Bahkan hidup sudah kugadaikan pada Tuhan
Sewaktu-waktu nyawaku bisa saja diambilnya

Negaraku negara penjual manusia
Mencari keuntungan dari mayat-mayat sendiri
Kalian tidak menangis?
Ah, bahkan mataku mulai pedih
"Rasanya ini darah yang keluar dari sana."

Mama tak sanggup melepas kepergian anaknya
"Tetapi, Ma, saya harus pergi e, kalau tidak nanti kita hidup susah terus e mama."
Hati mama gelisah

Penipu!
Negaraku adalah penipu
Negaraku berjanji melindungi semua rakyatnya

Aku pulang dengan tak bernyawa
Mamaku menangis
Tiga hari tiga malam mama meratapi aku
"Anakku oh anakku, uang yang membuatmu pergi kasih tinggal mama, uang juga yang membuatmu mati begini, anakku oh anakku eee..."
Mamaku tertekan
Tanpa tidur
Tanpa makan
Tanpa doa
Mama menyusulku

Negaraku pembunuh!
Membunuh habis keluargaku
Hari ini keluargaku
Besok lusa rakyat saudaraku

Negaraku pencuri!
Mencuri kebebasanku
Mencuri kebebasan kami

Negaraku tuli! Buta!
Negaraku telah mati
Sama seperti aku.

Gereja Kristus Raja Katedral Kupang, 18 Agustus 2016

Sabtu, 12 September 2015

Anak, Itu Lu Pung Tana!

Anak
Itu kotong pung tana
Sakarang lu son mangarti
Lu masi kici
Botong manangis badara bara'u itu tana
Ma sapa paduli san botong?
Anak
Jadi orang besar na paduli den yang kici
Inga lu ju dari orang kici
Jalan na angka muka
Jang hanya hitung doi sa
Anak
Itu lu pung tana
Deng kaka ade basodara samua
Bagi sama rata
Untuk pake bersama
Jang inga diri
Anak


(Anak, di Oeba yang ba'angin)

Kamis, 06 Agustus 2015

Mama, beta mau beli sisir!

via http://www.tzuchi.or.id/inliners/201507/KKPK20150524TL3.jpg



Beta batasibuk, Mama
Beta balari sana-sini
Beta hanya mau cari uang beli sisir
Beta mau sisir mama pung rambut

(Oeba, Rabu 5 Agustus 2015; dalam keadaan sakit dan ingat mama pung pasan 'biar sibuk na tetap jaga kesehatan')
*Inuk

Senin, 03 Agustus 2015

PAK POS, MAMPIRLAH SEDIKIT!



 
via http://baltyra.com/wp-content/uploads/2012/09/pak-pos.jpg
 


 

Pak Pos, mampirlah sedikit!
Apa tak ada surat untukku?
Aku tak bisa tidur semalaman.

Pak Pos, mampirlah sedikit!
Aku mencari-cari tumpukan kertas usang terakhir yang kamu bawakan.
Sudah setahun yang lalu lamanya. Apa tak ada lagi?

Pak Pos, mampirlah sedikit!
Aku masih menunggu dengan tidak sabar.
Ketuklah pintu rumah jika kamu membawanya.

Pak Pos, mampirlah sedikit!
Semoga Tuhan memberi kehidupan yang baik padamu
Sama seperti jalan yang selalu engkau lewati, baik.


Kamis, 16 April 2015

AKU SEORANG DURHAKA

Mama terlihat begitu sibuk.
Bahkan untuk mengurus dirinya sendiri mungkin tak ada waktu.
Keringat dari wajahnya, rambut ikalnya tak beraturan, bajunya tlah sobek.
Tampak garis lelah diujung matanya; menjawabku dengan sedikit marah.

Apa aku anak berbakti?
Aku seorang durhaka!



Rabu, 01 April 2015

Merindukanmu


Hi Rindu
Aku menyukai kehadiranmu dalam setiap langkahku
Aku sedikit merasa lega ketika kamu menghampiriku
Walau ada sakit menyiksa saat kehadiranmu menyisakan luka nantinya
Tetapi aku begitu menyukai dirimu

Hi Rindu
Bolehkah kita berjumpa lagi nantinya?
Ada banyak hal yang ingin aku ungkapkan padamu
Tentang perasaan bersalahku dan juga asaku

Hi Rindu
Bolehkah kugenggam dirimu dalam doaku?
Kamu terasa nyata mendekap diriku
Aku tak bisa menjauhimu

Hi Rindu
Ciumlah Aku!


Rabu, 1 April 2015, dalam panasnya kamar karena mati lampu dan kipas angin tak berfungsi, aku merasakan rindu yang luar biasa padamu. Jam 10.05 tepat di laptopku saat kutulis puisi ini untukmu. Selamat siang, untuk kamu yang sangat aku rindukan, saat ini! (Kupang)

Kamis, 07 Agustus 2014

Ada, Tidak Ada

Diujung jalan sana kudapati matahari yang sebentar lagi akan terbenam.
Aku mempercepat langkahku agar bisa berada tepat dipinggir jembatan penghubung antara dunia dan surga.
Sedikit nafas tersisa ketika aku mungkin berhasil sepersekian detik untuk menggapai cahaya keemasan yang sedari tadi membuatku ketakutan.
Aku menutup mataku, mencoba menghirup sedikit asa dari gelombang silau yang diberikan.
Aroma tanah, bau bumi menyentuh ujung hidungku.
Masuk melalui lubang kecil ini dan lihatlah! Getarannya mampu membuat sensasi imajinasiku melayang hingga ke otak.
Pada hitungan ke-3 mata terbuka dan tepat! Kau berada pas diujung sudut pancaran mataku.
Bagaimana mungkin kau menghilang bahkan disaat kaki ini tidak sepenuhnya menginjak bumi?
Ahh! Sudahlah.
Aku bisa merasakan kekuatanmu perlahan memudar. Mari bertaruh!
Mataku mengikuti gerakmu.
Terlalu cepat kau pergi. Kuangkat tanganku dan dibiarkan terbuka menghadapmu: mana hadiahku? Ya! Setiap hari kau memberiku hadiah kecil atas kebaikan yang kujalani.
Tahukah kau aku berbuat baik hari ini? Ya! Aku menyalami kekasihku.
Nampaknya kau bahagia. Kulihat dititik terakhir sinarmu, kau menurunkan titik-titik air kecil.
Oh hujan!
Bagaimana mungkin kau memberikanku hujan?
Apa maksudnya?
Aku masih terdiam, terpaku, hingga kusadari hadiahmu semakin menyakitkan dibahuku. Semakin deras.
Aku mengangkat kaki hendak pergi jauh darimu.
Tidak.
Sepertinya aku mengerti.
Aku kembali menatapmu jauh disana, ditempat tak terlihat.
Terimakasih untuk hadiah kecilmu. Hujan. Menyapu bersih pertengkaran kami. Membilas habis segala amarah.
Dibalik hujan aku mengetahui tentang niatmu.
Niatmu agarku tetap berdiri setiap hari disini.
Berterimakasih atas kesucian hati.
Niatmu agarku tetap membuka mata untukmu disana.
Sekalipun ditengah semangat yang akan hilang.
Namun, harapan yang tetap ada.
Kau.
Sampai jumpa lagi besok. Disini.
Kutunggu hadiah indahmu.
Kuharap kau tetap akan membiarkanku berada setengah dilangit, setengah dibumi.
Kuharap aku tetap begini. Denganmu.

Antara Kesakitan dan Surga

Kupegang butir demi butir, kuucap doa Salam Maria yang tlah kuketahui sejak kecil, sepanjang jalan ini.
Mataku tertunduk seiring dengan berjalannya kaki ditanah batu ini.
Jalan yang kupilih adalah jalan kesedihan.
Aku mencoba meresapi setiap sentuhan angin, sejuk.
Sedikit tergores kaki, batu itu tajam.
Aku terus melangkah, mendapati diri berada ditempat tertinggi.
Sejauh mta memandang, surga kutemukan.
Bagaimana tidak: apapun yang kamu lihat, hanyalah ciptaan Dia.
Dari yang biru, hingga hijau.
Dari yang halus, hingga kasar.
Dari yang pedih, hingga yang teduh.
Aku melihat anak-anak kecil berlarian. Bagaimanapun surga adalah tempat mereka.
Tuhan Yesus tidak pernah menolak anak-anak.
Sekarang aku melihat kerumunan lain datang.
Ya.
Ekaristi di Surga Tuhan tlah tiba.
Aku mencari tempat terbaik tuk memuji Dia.
Ah! Kakiku terluka.
Ternyata ada goresan batu yang berdarah.
Aku meringis kesakitan.
Saat itu aku mengerti.
Surgamu akan kamu dapatkan, tetapi tidak dengan gampang.
Bahkan kesakitan adalah temanmu, walaupun sedikit.
Kakiku boleh terluka, tetapi lukisan karya Tuhan kudapatkan.
Antara kesakitan kakiku dan surga Tuhan, ada nama Maria terucap tak terduga.

kata "antara"

Kalau saja aku bisa memahami sedikit saja inginku, mungkin kecemburuan tingkat tinggi bisa melumpuhkan otak kecilku.
Cemburu akan terbentuk karena ingin memiliki seseorang dengan utuh. Ya. Aku menginginkanmu dengan utuh, sepertinya hanya aku yang boleh menjadi milikmu. Bodoh! Itu pemikiranku, mungkin.
Namun, aku harus bangun dari mimpi indahku dan membenturkan kepala ini ke tembok sebanyak mungkin agar tersadar dari tidur panjang yang melelahkan itu. Berlari dan mendapatimu adalah hal konyol yang tidak akan pernah terjadi, sekalipun dunia kiamat, pasti.
Cemburu itu bukan hak-ku. Bahkan, aku tak pantas mendapatkan, memegang, memakai, sesuatu yang disebut cemburu. Dan atas dasar apa aku harus mencemburuimu? Ada yang mengatakan itu Ce Ii eN Te Aa. Buta.

CINTA sesuatu bagiku yang harus aku jauhi. Cinta bagiku adalah kebohongan (Amor es Mentira).Ketika setitik saja kau merasakan cinta, pelan-pelan darahmu menjadi serasa mengalir dengan kencang; nadimu berdenyut dengan cepat; bayangkan detak jantungmu yang mulai tak beraturan (sama halnya dengan orang yang sudah mau mati karena penyakit jantung), dan pada akhirnya kamu mendapati dirimu disana, dengan airmata yang menetes. Menyakitkan.

Orang mengatakan cinta itu indah. Ya. Bukankah semua kita boleh berpendapat karena kita melalui sesuatu yang disebut 'Pengalaman' ?

Ketika kamu membuka sisi-sisi kosong jemarimu dan memaksaku harus memasuki jari-jariku disela-selanya, aku mendapati suatu kebohongan besar ada didalamnya. Dan kita telah berada disudut jurang yang harus kita lalui.

Cinta, cemburu, itu semua bukan hak-ku. Sekali lagi, itu bukan milikku. Kekosongan diriku terlalu tidak pantas disejajarkan dengan keindahan dirimu yang terbaris rapi dari tata caramu, tingkahmu, semua hal itu. Dan aku, harus tetap disini, mengatakan berulang-ulang bahwa ini bukanlah cinta. Karena cinta itu adalah suatu kebohongan, oleh karena itu tidak akan pernah harus terjalin.

Ketika kita melukiskan garis-garis kesalahan diatas kertas putih itu, jangan sekali-kali menoleh ke belakang lagi. Kita dibatasi oleh kata 'antara' yang tidak akan pernah bisa kita hilangkan. Karena aku dan kamu, kita, berada di-antara- kebohongan tiap sisi mata kita.


Sabtu, 26 Juli 2014, #mulutmanisku

Kamis, 06 Februari 2014

Ketakutan Sebuah Mimpi



aku takut…
bukan karena nafasku sebentar lagi akan habis,
tapi aku takut..
sebab kesalahan teramat fatal buatku
permainan apa lagi itu ?
aku obyek utama namun bertindak sebagai subyek gelap…
ku buat mereka berputar-putar…
namun tak kusadari waktu tak bisa kuputar lagi
aku begitu menikmati semuanya…walalu sekejap
lama..terlalu lama..kusadari ku sudah berada di ambang kematian.
ketika aku harus memilih, aku melihat cahaya itu
petunjuk apa lagi ini ?
sesak dadaku..
aku pun terhempas
otakku dipenuhi ulat-ulat berbisa
“lepaskan aku !”



26-01-09

Puisi Di Atas Kesalahan


tergores kata airmata
hiaskan putih suci kertas indah
pena bergerak tanpa suara
imajinasi melangkah lamunan pun terbang
berdarah dalam tiap untaian makna
mengalir keluar rayapi lekuk-lekuk indah
terdiam bersama kesalahan
suatu pesan samar-samar
terang lampu tak mampu berguna
huruf-huruf kecil kosong arti
berbaris bagaikan semut merah
pertanda apa tak diketahui maksudnya
hanya kepastian ada suatu kesalahan
dan puisi adalah penyejuknya hatinya.


Senin, 26-01-09

Detik Akhir

Ketika kau lihat bahwa langit itu terbuka
Dan senyum tawa para malaikat itu  bahagia
Yakin dan percaya cinta akan kematianmu
Maut tak akan menang akan iblis
Namun iblis akan kalah oleh dunia
Tersenyumlah dan bahagialah
Karena tangan itu meraihmu melompat kedalam kolam
Berenang diantara salju-salju suci para dewa
Maka yakin dan percaya ketulusan akan ajal gelap


Kupang, Selasa, 20 Januari 2009

Tanpa Judul (1)

bisakah kau lihat tangis mereka ?
relakah engkau membiarkannya ?
lihatlah telinga mereka !
berdarah, terpotong kejamnya dunia !
dengarkan seruan mereka, caci maki yang hebat !

tidakkah kau peduli padanya ?
tulikah telingamu ? atau butakah mata hatimu ?

kau berjalan di atas karpet merah, dengan gemerlapnya dunia
tidakkah kau lihat mereka bersandar pada kardus-kardus kolong jembatan ?

bukalah hatimu, hai manusia keji !
sadarkan hatimu, hai manusia laknat !
dirimu adalah pengecut !
saking pengecutnya dirimu kau tega membiarkan mereka terlantar dalam gelapnya bumi ini !



Jumat. 24 Oktober 2008 

Tanpa Judul (2)


langit terasa sangat jauh…
berlarian para awan menjemput bidadari
matahari siang panas membakar kulit
hati tertusuk pisau memandangi dunia kelam

angin sepoi dingin terasa panas menyentuh
ketika matahari perlahan semakin dekat
bunga-bunga layu hanguskan padang rumput
membakar dunia dalam kegelapan

sang pujangga datang menembak
terdengar tangis tawa para pemberontak
teriakan anak emas jadi seruan
langkah kaki mereka jadi senjata



Jumat, 24 Oktober 2008